KENDAL – Gerakan Mageri Segoro yang diprakarsai Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, disambut positif oleh masyarakat pesisir pantai utara Jawa. Merasa memiliki, mereka berjanji ikut merawat mangrove yang telah ditanam, agar ekosistem tetap terjaga dan abrasi bisa dicegah.

Warga Kendal, Ribut Juwarni mengatakan, kegiatan tersebut sangat menginspirasi dirinya dan anggota komunitas Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI). Dari tanaman mangrove, komunitasnya dapat memberdayakan ekonomi warga, mulai dari pembuatan sirup hingga keripik mangrove.

“Sangat-sangat membantu karena sekarang di sini terjadi perubahan iklim, rob di mana-mana. Dengan adanya penanaman mangrove ini, sebisa mungkin bisa mengatasi rob di pesisir. Itu tujuan kami,” ujarnya, seusai acara Mageri Segoro di Pantai Muara Kencana, Kendal,bRabu (15/10/2025).

Dia berharap dalam lima tahun ke depan, bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh subur dan bermanfaat bagi warga sekitar. Ribut juga sependapat dengan Gubernur Luthfi, Mageri Segoro tidak boleh sekadar seremonial, melainkan harus dilanjutkan dengan perawatan.

“Seperti yang diungkapkan Pak Gubernur, kami juga melakukan tambal sulam tanaman. Kami bekerja sama dengan pihak desa untuk melakukan pengecekan,” imbuhnya.

Nelayan Kendal, Mahmudi, menilai, Mageri Segoro akan berdampak positif pada alam dan hasil tangkapan ikan. Dia berkomitmen turut menjaga bibit tanaman yang telah ditanam.

“Paling tidak sebulan sekali kita akan memantau apakah tumbuh atau tidak. Hari ini kita menanam, mungkin 10–15 tahun lagi baru menuai hasilnya. Karena ini sangat bermanfaat bagi kawasan pesisir, terutama di Pantura Kendal,” ujarnya.

Dalam momentum Mageri Segoro di Kendal, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menanam mangrove secara serentak bersama 17 bupati/wali kota di wilayah pesisir Jawa Tengah. Jumlah pohon yang ditanam mencapai 1.304.410 batang, atau setara 150 hektare lahan.

Sejak Maret hingga September 2025, sudah tertanam 668.000 batang. Dengan tambahan Oktober ini, total ada 1.972.410 batang mangrove yang ditanam sepanjang 973 kilometer garis pantai Jawa Tengah.

Luthfi menegaskan, kegiatan itu tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman semata. Dia meminta seluruh pemerintah daerah pesisir, mendata benih yang telah ditanam.

“Saya minta para bupati dan wali kota di 264 zona penanaman, setiap tiga hari sekali lakukan patroli, dipimpin oleh Dinas Lingkungan Hidup masing-masing. Pak Widi (Kepala DLHK Jateng), bikin surat edaran kalau perlu. Ingat, setelah ditanam harus dipelihara, setelah dipelihara dirawat, kalau ada yang mati diganti,” tegas gubernur.

Luthfi juga berterima kasih karena gerakan itu menjadi kerja bersama. Tidak hanya antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, juga insan lingkungan hidup dan BUMN di wilayah pesisir, yang turut membantu proses pembibitan.

“Kerja-kerja ini bukan hanya prakarsa pemprov dan pemda, tapi juga dukungan banyak pihak yang peduli lingkungan,” pungkasnya. (Pd/Ul, Diskomdigi Jateng)