JEPARA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong pemanfaatan biogas tidak hanya sebagai sumber energi bersih, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Salah satunya, melalui program Gebrak Bio (Gebrakan Bernilai Ekonomi Produk Biogas) di Kabupaten Jepara.

Program tersebut diluncurkan, sebagai upaya mengolah bio-slurry atau ampas biogas menjadi produk bernilai guna, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair (POC), dan media tanam.

Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Muria, pada Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Diana Kristina mengatakan, secara resmi program tersebut diluncurkan pada Senin (5/10/2026). Menurutnya, pemanfaatan biogas seharusnya tidak berhenti pada penggunaan gas sebagai sumber energi rumah tangga.

“Biogas tidak berhenti pada gas. Dari prosesnya kita mendapatkan bio-slurry yang masih memiliki potensi. Melalui Gebrak Bio, potensi tersebut kita olah menjadi produk yang bermanfaat, dan diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya, saat dikonfirmasi Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, pengolahan bio-slurry menjadi produk pertanian merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Kotoran ternak yang sebelumnya menjadi bahan baku biogas, setelah melalui proses fermentasi, menghasilkan gas sekaligus ampas yang masih dapat dimanfaatkan.

Dalam skema tersebut, kotoran ternak diolah menjadi biogas sebagai energi bersih. Sementara bio-slurry yang dihasilkan kemudian diproses menjadi pupuk organik dan media tanam, sehingga memiliki nilai tambah dan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Ditambahkan, program Gebrak Bio dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia usaha. Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Pemkab Jepara melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (Undaris), TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Dharma Wanita Persatuan Dinas ESDM Jateng, serta sejumlah pelaku usaha.

Tidak hanya pengenalan pada potensi bio-slurry, Gebrak Bio juga dilanjutkan dengan bimbingan teknis, pada Selasa (6/10/2026). Kegiatan tersebut menyasar tiga kelompok tani penerima instalasi biogas di Kecamatan Kembang, yakni Kelompok Tani Guyub Rukun di Desa Sumanding, Kelompok Tani Makmur II di Desa Bucu, dan Kelompok Tani Morodadi I di Desa Cepogo.

Dalam bimtek tersebut, para kelompok tani mendapatkan pengetahuan dan praktik pengelolaan bio-slurry, mulai dari penanganan bahan, pemisahan fraksi padat dan cair, fermentasi, formulasi produk, hingga pengemasan dan pemasaran.

Diana mengatakan, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting, agar manfaat instalasi biogas dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Kita ingin manfaat biogas tidak berhenti ketika gasnya sudah digunakan. Ampas biogas juga harus memberikan manfaat. Ketika bio-slurry dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, maka manfaat instalasi biogas menjadi semakin lengkap,” ujarnya.

Upaya tersebut diapresiasi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Mudhofir. Dia mengatakan, pemanfaatan bio-slurry membuka peluang baru bagi masyarakat, khususnya kelompok tani.

“Jangan melihat limbah sebagai akhir dari sebuah proses. Lihatlah sebagai awal dari sebuah nilai,” pungkas Mudhofir. (Pd/Ul, Diskomdigi Jateng)